"Manners Before Knowledge"

  • Slide 1

    Melayani Pembuatan Seal Hydraulic dan Pneumatic dengan Ukuran serta Profile yang tidak Standart.

  • Slide 2

    Semar memiliki ciri yang menonjol yaitu berkuncung putih, kuncung putih itu sebagai simbol atau memiliki arti pikiran,gagasan yang jernih.

  • Slide 3

    Gareng memiliki ciri fisik bermata kero, bertangan ceko dan berkaki pincang. Mata kero berarti kewaspadaan, tangan ceko berarti ketelitian dan kaki pincang adalah kehati-hatian.

  • Slide 4

    Petruk, jika kedua tangannya digerakkan seperti kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memillih apa yang dikehendaki. Tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih.

  • Slide 5

    Bagong memiliki ciri yaitu dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar yang menyimbolkan selalu bersedia untuk bekerja keras.

Selasa, 21 Agustus 2018

#SENGKUNI2019

#SGKN201901

1.      Bersyukur dan Takut
Aku bersyukur Indonesia tidak mengenalku
Ia hanya sesekali berpapasan dengan bayang-bayangku
Terkadang ia menyapaku, tapi salah panggil apa dan siapa diriku
Ada saat aku ingin memperkenalkan diriku, tapi selalu ragu
Akhirnya kubatalkan, karena aku tidak menemukan bahwa ia sungguh-sungguh mau berkenalan denganku
Aku bersyukur Indonesia tidak mengenalku
Sebab aku sungguh takut kepadanya
Aku ngeri berurusan dengannya
Aku cemas kalau berada di dekatnya
Aku terlalu gerah oleh udaranya
Aku tak sanggup menghirup baunya
Aku gemetar mendengar suara hatinya
Aku tak berani ditikam oleh pedang kebutaannya
Aku mengambil jarak sangat jauh dari perangai mentalnya
Aku bersembunyi dari kegaiban akal dan logikanya
Aku resah mohon Tuhan jangan suruh aku mengurusinya


2.      Nabi Paling Akhir
Ampunilah sebuta ini mataku atas rahasia-Mu
Maafkanlah sebebal ini hati dan pikiranku
Sungguh tak kutahu yang mengalir adalah firman
Cahaya Kau pancarkan di kegelapan malam

Ya Allah ternyata sesudah Nabi terakhir
Yang Kau lahirkan di Tanah padang pasir
Telah pula Engkau turunkan Nabi paling akhir
Di Nusantara, negeri sungai-sungai mengalir

Orang-orang menjunjungnya
Melebihi Muhammad ataupun Baginda Jibril
Orang-orang membelanya bertaruh nyawa dan harga diri
Melebihi dan mengungguli maqam-Mu sendiri

Ya Allah tetapi mustahil aku bergeser dari titik kakiku berpijak
Sepuluh kali hidup dan mati takkan membuatku berpindah kiblat
Telah kutempuh pengembaraan berabad-abad
Diterbangkan oleh syahadatain kepada-Mu dan Muhammad

3.      Satria Pamungkas
Kalau ia bukan Nabi-Mu wahai asal usul segala tajalli
Takkan sampai orang mempersembahkan sepenuh diri
Sampai pun para Ulama berwirid Ya Matinu Ya Qowiy
Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati

Siapa selain utusan-Mu wahai penyuluh dan penyesat hati
Yang dicintai dengan sedia menyerahkan seluruh diri
Yang dipuja-puji sebagai Satria Pamungkas zaman ini
Satu pribadi kumpulan karakter semua Nabi-nabi

Kalau bukan duta-Mu sendiri wahai Rabbinnas wal’alam
Keburukannya takkan kau ganti menjadi kebaikan
Dari Hari ke Hari yubaddilullahu sayyi`atihim hasanat
Khianat dan kedhaliman Kau ubah menjadi nikmat

Bagaikan kekasih-Mu Muhammad itu sendiri
Hadir kembali blusukan ke kampung-kampung kami
Para Jamaah menyorongnya ke depan agar ngimami
Aku sembunyi sebab atas kotor hidupku ini aku tahu diri

4.      Nabi Tambahan Akhir Zaman
Orang bilang sabarnya bagaikan Nabi Ayub
Keberaniannya menandingi Nabi Ibrahim
Segagah Nabi Musa, seluwes Nabi Idris
Lembutnya bagaikan Isa Nabi cinta

Dinanti-nanti kehadirannya sebagai Ratu Adil
Dirindukan lahirnya sebab ia Satria Piningit
Diharap-harap pertolongannya bak Imam Mahdi
Ia Messiah agung yang selalu diminta jadi Imam

Tekun menaiki jenjang-jenjang perjuangan
Meskipun dibenci oleh para handai taulan
Ia adalah Nabi Yusuf tak tergoda oleh Zulaikha
Ia ditelan ikan namun berhasil keluar dari perutnya

Ya Tuhan kenapa Engkau tak berterus terang
Bahwa kepada bangsa besar ini Engkau anugerahkan
Nabi tambahan karena darurat akhir zaman
Aku tidur lelap tak beranjak dari ranjang

5.      Gelembung Pertapaan Sepi
Ilmu yang kusandang sejak hari kelahiran
Adalah takkan sedia ditunggangi oleh zaman
Sejarah seakan berderap maju ke depan
Manusia sedunia mandeg dalam aliran

Sepanjang hidup tak pernah aku tak bermasalah
Di semua bangku persekolahan palsunya sejarah
Tapi siang malam aku bertahan dan tidak lelah
Padaku tak ada tabir yang bisa menghijabi sejarah

Kalau ini yang namanya Negara dan Pemerintah
Urusan kubatasi hanya menyayangi manusia
Kalau begini yang disebut kemajuan dan demokrasi
Takkan beranjak aku dari gelembung pertapaan sepi

6.      Remang
Kau datang seperti dari alam ghaib
Seakan pembantu khusus Raqib Atid
Yang wajah dan tugasnya dibolak-balik
Baik jadi buruk, buruk jadi baik

Bohongmu adalah kejujuran
Konyolmu adalah kemuliaan
Tak tahumu adalah kebijaksanaan
Tak layakmu disembunyikan

Aku tidur sepanjang siang dan malam
Gagal ilmu gagal paham berkepanjangan
Rukuk sujud tak berkesudahan
Info dari Tuhan hanya remang-remang

7.      Maling
Orang membenci dengan penuh kerinduan
Kepada maling, koruptor, pencopet, pengutil
Penjambret, penggangsir atau buto kempung
Mereka berantas sambil diam-diam meniru

Ketika maling besar dihancurkan
Rakyat bersorak-sorai penuh kegembiraan
Para pelengser maling berkata diam-diam
“Jangan kamu saja, kami pun butuh bagian”

Dulu maling satu, sekarang seribu jumlahnya
Dulu sekumpulan, sekarang hampir semuanya
Tak ada bukti kalau dibilang semuanya korupsi
Cuma gimana mau bilang ada penguasa yang tidak korupsi

8.      Balada Dluafa
Ke manakah kucari saudara-saudaraku Dluafa
Di sebelah mana dari gugus-gugus Nusantara
Di bagian mana dari kota, desa, segmen dan strata
Ketika setiap penduduk ingin kaya dan berkuasa

Sedulur-sedulurku Mustadlafin yang dilemahkan
Berjuang keras agar menjadi yang melemahkan
Keluargaku sebangsa yang tak kebagian
Mengidamkan posisi agar menguasai bagian-bagian

Tatkala hari pemilihan datang
Serangan fajar pasti merupakan pendapatan
Semoga sanak familiku di hari mendatang
Terkabul menjadi pihak yang melakukan serangan

9.      Serigala Berhati Domba
Orang yang menuduh orang lainnya serigala
Ada sekurangnya tiga macam kemungkinannya
Pertama ia benar-benar seekor domba
Sebab domba yang paling peka terhadap serigala

Kedua ia adalah serigala yang berhati domba
Selalu kecut hatinya, senantiasa cemas hidupnya
Rasa cemas bersumber dari rasa tidak percaya
Kepada dirinya, dan terlebih lagi kepada lainnya

Ketidakpercayaan berasal dari kesempitan
Kesempitan adalah salah satu putra kekerdilan
Pengetahuannya tidak bulat atas kehidupan
Ilmunya tidak mengandung kebijaksanaan

Adapun kemungkinan yang ketiga
Penuduh serigala adalah juga serigala
Yang menolak ada serigala lain yang bukan ia
Karena seluruh hutan rimba harus ia sendiri yang menguasainya

10.  Domba dan Serigala
Di rangkaian beribu kepulauan
Aku hidup rukun berdampingan
Dengan bangsa besar
Yang hidupnya penuh kekawatiran

Jiwa mereka dikerdilkan oleh zaman
Kecil hati dan tak pernah merasa nyaman
Setiap orang merasa dirinya adalah domba
Dan yang selain dirinya adalah serigala

Ketika domba merumput di padang-padang
Siapa saja yang lewat atau datang
Pastilah itu serigala yang mengancam
Selalu demikian mereka merasakan

Serigala meneriaki serigala
Serigala sakit jiwa kepada serigala
Sehingga tak satupun yang bukan serigala
250 juta domba Nusantara tak mengerti itu semua

11.  Domba Berhati Serigala
Aku diutus pergi ke Negeri Domba
Tanah air domba, pulau-pulau domba
Domba-domba sangat indah dan tercinta
Berkurun waktu merumput hingga cakrawala

Sejak tujuh abad yang telah silam
Serigala-serigala dari barat berdatangan
Menjadikan domba-domba sebagai makanan
Terutama otak dan hati domba pun dikenyam

Sejak itu sebagian di antara domba-domba Nusantara
Melakukan perlawanan agar tak ditelan begitu saja
Mereka berjuang untuk bisa menjadi serigala
Sehingga bisa beramai-ramai ikut makan domba

Hari ini semua anak domba dididik menjadi serigala
Setiap domba bercita-cita menjadi serigala
Aku dikerumuni oleh domba-domba berhati serigala
Aku domba kecil harus hadir sebagai serigala raksasa

12.  Serigala atau Domba
Serigala atau domba
Tidak karena besar kecil badannya
Di dalam peta perebutan kuasa
Kebanyakan serigala
Kecil, kurus atau pendek tubuhnya
Meskipun ada juga di antara mereka
Yang besar tinggi sosoknya

Serigala atau domba
Terletak pada hatinya
Domba berat hati pada kalbunya
Serigala dikendalikan oleh syahwatnya
Akal pikiran yang berkantor di kepala
Ada yang menjadi penimbang nuraninya
Yang lainnya jadi bawahan nafsunya

13.  Tatkala Domba Mengembek
Tak ada domba yang lemah hidupnya
Kuat dan lemah hanyalah batas ilmu manusia
Tak ada selamat atau sesat padanya
Semua domba hidup bahagia
Karena ikhlas berbagi dengan manusia
Kambing tidak menginginkan apa-apa
Tuhan yang menginginkan mereka
Domba tidak menuju ke mana-mana
Mereka sudah bersemayam pada-Nya
Domba tidak memperjuangkan cita-cita
Mereka mengada karena kemauan-Nya
Domba tidak perlu mentaati-Nya
Tak ada jarak yang harus ditempuhnya
Tuhan hulu-hilir mereka tanpa rentang di antaranya
Para Nabi menggembalakan domba-domba
Padahal para utusan itulah sesungguhnya
Yang digembalakan oleh-Nya
Melalui tajalli domba-domba
Dan tatkala domba mengembek dengan mulutnya
Mestinya manusia belajar mencerdasinya
Bahwa itu adalah rasa kasihan dan sanepa
Bahkan ejekan kepada manusia

14.  Sedia Menderita
Tak ada serigala yang berdosa
Bahkan semua serigala tinggi derajatnya
Karena sedia menderita selama hidupnya
Tak bisa makan rumput seperti domba
Serigala diwajibkan mati sengsara
Karena ketika sudah udzur usianya
Tak sanggup menangkap mangsanya

Tak ada serigala yang buas perilakunya
Kekejaman hanyalah prasangka manusia
Yang dijadikan kenyataan pada hidupnya
Tuhan bilang Kun dan menata dauriyah semesta
Ia memperlakukan diri-Nya para serigala
Ia memberlakukan gagasan dan kemauan-Nya
Pada animasi serigala, domba dan alam raya

Pun manusia, yang serabutan perilakunya
Yang Ia angkat sebagai salah satu wakil kepala
Tapi berlaku mengkudeta kuasa-Nya
Mengucapkan kalimat, huruf dan kata
Mempidatokan nilai dan prasangka-prasangka
Menyusun pemerintahan dan tata kelola
Dengan mengambiil alih haq-Nya menjadi haknya

15.  Domba Beranak Serigala
Berabad-abad lamanya
Kita adalah bangsa domba
Tapi sejak anak-anak kita
Dimangsa oleh para serigala
Akhirnya kita didik anak kita
Supaya juga menjadi serigala

Berabad-abad lamanya
Kita adalah manusia domba
Tuhan mengirim Nabi dan Rasul-Nya
Untuk menggembalakan kita
Menancapkan patok di pusat semesta
Dan mengulur tali ke leher kita

Kita adalah domba beranak serigala
Tetapi serigala tetap beranak domba
Hingga disekolahkan agar jadi serigala
Tetapi hari ini serigala sadar ia domba
Ia berlatih menghimpun kekuatan serigala
Agar mulai esok tak lagi bisa dimangsa

16.  Disamarkan Seakan Domba
Berabad-abad lamanya
Kita adalah makhluk domba tercinta
Berasal dari gagasan kerinduan-Nya
Satu staf diperintahkan oleh-Nya
Untuk membentuk dan menata wujudnya

Domba dipekerjakan untuk taqarruban
Suara mulut domba sepanjang kehidupan
Selalu bernada informasi dan peringatan
Dan setelah disembelih dan dimakan
Ia memperoleh derajat kemuliaan

Berabad-abad lamanya
Kita disamarkan menjadi seakan domba
Di bumi hanya boleh berbunyi satu suara
Karena manusia omong terlalu banyak kata
Dengan itu mereka berbunuhan satu sama lainnya

17.  Di Atas Serigala dan Domba
Ia bukan serigala
Juga bukan domba
Ia di atas serigala dan domba
Ia lebih pandai, lebih unggul dan licin
Dibanding serigala dan domba

Ia bisa menjadi serigala
Ketika menjadi serigala menguntungkannya
Ia juga dengan cepat bisa menjelma domba
Kalau menjadi domba membuatnya lebih banyak menumpuk laba

Ia di atas semua serigala dan segala domba
Ia sanggup menserigalai kita dan mampu mendombai kita
Siapa saja bisa dibikinnya menjadi serigala
Juga siapapun bisa disanderanya menjadi domba

Sebagaimana kata salah satu firman
Hidup hanyalah senda gurau dan permainan
Ia menerima ketentuan itu dengan penuh keikhlasan
Asalkan bagiannya adalah kursi besar kekuasaan

18.  Tapi Aku Mencintaimu (1)
Wahai Tuhan aku memohon perlindungan
Atas terancamnya cintaku kepada manusia
Yang berhimpun menjadi sebuah bangsa
Yang Engkau meletakkan hidupku padanya

Wahai Tuhan tak kuasa aku menahan rahasia
Tetapi kalau sampai kubukakan kepada mereka
Aku khawatir mereka akan baku bunuh sesamanya
Atau akan bunuh diri tak kuat menanggungnya

Wahai Tuhan mohon jangan biarkan
Cintaku tergerogoti oleh rasa malas dan bosan
Oleh ketakjuban buruk dan kemarahan
Mohon halangi cintaku dari rasa putus asa

19.  Tapi Aku Mencintaimu (2)
Ini makhrajat dan kantung-kantung obat
Aku disuruh menyampaikan sebagai amanat
Supaya lelakumu tak sepenggal dan napasmu tersendat
Padahal hidupmu mengalir terus hingga akherat

Kamu menjilat-jilat tapi merasa hebat
Kamu sembah dunia ngakumu lillahi ta’ala
Kamu pikir itu pencapaian padahal kebobrokan
Kamu merasa bangga padahal sedang sangat hina

Tetap kubagi-bagi meskipun untuk munafiqin munafiqat
Urusan dengan Tuhanmulah untuk dicintai atau dilaknat
Aku kagum mentalmu sangat tangguh dan kuat
Sebab telah kau buang rasa malu dan martabat

20.  Tapi Aku Mencintaimu (3)
Aku bertempur melawan raksasa
Yang melesat keluar dari dalam jiwaku sendiri
Ia unjuk sulthan gagah perkasa bertiwikrama
Karena lelah terlalu lama bersembunyi

Aku sungguh membutuhkan kelembutan hati-Mu
Sebab dengan secipratan saja aku memperolehnya
Atau Engkau suntikkan dari ubun-ubun ke dada
Letusan seratus gunung aku sanggup menelannya

Ya Allah la yafqohuna qoulan wa la syai`an
Cintaku kepada mereka hampir tak tertanggungkan
Atas huruf apa saja mereka salah dan gagal paham
Terlalu lama mereka digiring dikurung diternakkan

21.  Tapi Aku Mencintaimu (4)
Wahai Tuhan yang kelembutan-Mu tak terperi
Terimalah himpunan syahadah mujahadah
Dari anak cucuku yang berhimpun di dalam rumah
Tabung kaca Maiyah yang Engkau anugerahi dan lindungi

Wahai Tuhan Yang Maha Tak Tega Hati
Hatiku tak pernah tega kepada anak cucu yang di luar
Yang di dalam diri sendiri pun mereka terlempar-lempar
Karena dunia dipimpin oleh yang kepada-Mu bermakar

Engkau terlalu agung untuk tidak mengampuni
Mereka kejar dunia dan dunia menolak mereka
Mereka sembah berhala dan berhala meninggalkannya
Tinggal kemurahan-Mu harapan satu-satunya

22.  Tapi Aku Mencintaimu (5)
Ya Allah setua ini baru mulai kutahu
Lipatan-lipatan jebakan dalam ciptaan-Mu
Rekayasa dan animasi-animasi materi-Mu
Antara yang seolah nyata dan seakan semu

Jika hidup adalah berkiprah di dunia
Jika hanya sejengkal ini keutamaan urusannya
Jika perjuangan adalah berebut kuasa dan harta benda
Maka Penciptanya sungguh rendah mutunya

Jika kemajuan adalah tambang-tambang dan Istana
Kalau cinta adalah menutup mata dari cakrawala
Maka kemenangan adalah milik siapa saja
Yang tak tahu dirinya, tak ngerti malu dan hinanya

23.  Tapi Aku Mencintaimu (6)
Aku takjub kepada tenangnya hati mereka
Sebab tidak mengerti apa yang akan menimpa
Meskipun mereka risau atas yang tak perlu dirisaukan
Serta tidak galau terhadap yang mereka tak perlu galau

Aku takjub mereka yakin sedang bernegara
Aku kagum pada keanehan mereka
Dalam memilih tokoh-tokoh dan pemimpinnya
Siapa saja tanpa pikir panjang bisa dijadikan apa saja

Aku melihat sempit berpikirnya, pendek jangkauan ilmunya
Serta dangkal dan tidak lengkap pertimbangannya
Tapi tidak bagi mereka, aku ah makhluk paling dungu di dunia
Bersedih atas hal-hal yang mereka tak memperdulikannya

24.  Tapi Aku Mencintaimu (7)
Sebagaimana kualami sejak kanak-kanakku
Setiap ‘Ied datang, aku sembunyi dalam sepi dan bisu
Hatiku menggigil, telinga jiwaku dirusak
Allah sangat hadir tapi ditutupi oleh suara gaduh berderak-derak

Sejak hari-hari menjelang Idul Adlha
Kucari di mana dua kekasih-Nya berada
Bapak macam apa yang tega hati menyembelih anaknya
Betapa mungkin ia mantap memenuhi perintah membunuh putranya

Tidaklah karena iman dan kepatuhan kepada Tuhan
Maka ia boleh membuang rasa kemanusiaannya
Adakah seorang sastrawan di antara kita, yang mampu menggambarkan
Betapa iman dan keikhlasan tidaklah berlangsung datar tanpa guncangan

Ya Allah Maha Tuan Rumah kalbu semua hamba
Kualami 66 Idul Adlha tanpa Ibrahim dan Ismail padanya
Tidak juga maknanya, bayangan atau kelebatan hakikatnya
Tetapi aku mencintai mereka semua, meskipun dukaku tak sampai padanya

25.  Tapi Aku Mencintaimu (8)
Seribu sapi disembelih
Sejuta nafsu dilampiaskan
Seribu kambing dikendurikan
Sejuta lawwamah dipestaporakan

Di abad 21 puncak peradaban
Kaum Muslimin menghunus pedang
Tidak di akalnya, melainkan di tangan
Keluar dirinya mencari sasaran

Amir Umara Alim Ulama menyimpulkan
Idul Qurban sebatas membunuh binatang
Di dalam jiwa mereka ternakkan Iblis Setan
Dikasih makanan politik dan keserakahan

26.  Tapi Aku Mencintaimu (9)
Dua ratus lima puluh juta orang
Yang hidupnya bersungguh-sungguh dan penuh kesulitan
Dipermainkan oleh beberapa ratus orang yang mereka tokohkan
Yang mereka upah dan mereka limpahi kesejahteraan

Dua ratus lima puluh juta rakyat
Yang perjuangan penghidupannya penuh kemandirian
Menjunjung beberapa ribu penipu di atas kepala mereka
Sedemikian tangguhnya mereka sehingga tetap tertawa-tawa

Ribuan orang-orang pandai menginjakkan sepatu tipu daya
Ribuan orang-orang dewasa yang rakus seperti kaum remaja
Ribuan orang-orang tua dengan air liur bayi di mulut mereka
Memperdalam cintaku seharga seribu mati kepada mereka

27.  Tapi Aku Mencintaimu (10)
Dua ratus juta orang tak berdaya apa-apa
Atas penipuan yang menjerat mereka dari era ke era
Tetapi itu membuat mereka berkekuatan ekstra
Atas hidup mereka bersama keluarga
Para penipulah golongan manusia paling tak terdaya
Sehingga perlu menipu sesamanya
Demi menyangga hidupnya

Para penipu menyebut dirinya tukang perintah
Padahal hidup mereka bergantung pada upah
Para penipu itu mengaku berjuang membela rakyatnya
Padahal mereka lebih lemah dan tak ada tanpa rakyatnya
Mereka mengaku dan merasa diri mereka adalah Negara
Padahal Negara tak pernah merancang akhir dari hidupnya
Sementara para penipu itu hanya duduk lima tahun saja

28.  Tapi Aku Mencintaimu (11)
Di antara dua ratus lima puluh juta rakyat
Terdapat kaum penipu yang berganti-ganti kerjanya
Tatkala lemah mereka mengemis dan menjilat
Ketika kuat mereka merampok laut dan darat

Para penipu itu bernafsu ingin jadi orang besar
Sebab mereka merendahkan petani kuli pasar
Siapa saja yang menguntungkan, kontan ditaatinya
Kalau besok merugikan, langsung dikhianatinya

Di antara mereka berpura-pura bersaing sesamanya
Mereka lawan saling berseberangan, kawan tak ada
Sahabat sejatinya adalah ambisi dan keserakahan
Susah payah kupertahankan cinta karena mereka manusia



29.  Tapi Aku Mencintaimu (12)

Para penipu sangat sukar dikenali siapa mereka
Wajah mereka selalu ditabiri dengan citra
Kebusukan hati mereka diparfumi dengan kata-kata
Malaikat mulutnya tapi Iblis pelaksanaannya


Dunia pun mengangkat mereka sebagai Dewa-dewa
Karena mereka hanya budak dari maha dewa dunia
Yang berabad-abad mencuci otak ummat manusia
Memproduksi api neraka dilabeli sorga


Aku sangat mencintai dan siang malam menemani
Ratusan juta manusia yang hidup untuk diperdaya
Kusimpan sekantung rahasia sangat rapi dalam hati
Sampai seluruh prasangka peradaban ini tiba di hari senja


30.  Tapi Aku Mencintaimu (13)
Kita hidup kholidina fiha abada
Inna li Allah dan roji’un kepada-Nya jua
Allah asal-usul dan tujuan di seberang cakrawala
Cahaya terpuji sang Pembarep yang menuntun
Kita semua menguntit di belakang langkahnya

Adapun kepada manusia, kepada bangsa
Dengan fatamorgana Negara khayalannya
Yang grubyag-grubyug berjalan tak tahu arahnya
Yang kini sedang menyiapkan perbenturan berikutnya
Kapan saja bisa dan punya, kita siap mengevakuasinya

31.  Tapi Aku Mencintaimu (14)
Kami Miim sekeluarga menyayangi semua
Bebarengan para Siin mengawal
Hingga tembus ruang di seberang cakrawala
Jumpa kembali dengan Nuun yang sejatinya

Selalu bermesraan dengan berjuta-juta saudara
Kadang masih muncul urusan kemajuan selompatan
Topik parit dangkal, urat pendek, mata kalap
Atau pembangunan semu kenikmatan sekejap

Ratusan juta kanak-kanak tak kunjung dewasa
Suntuk bersekolah hanya sampai ke remaja
Tetapi kami tidak mencampuri urusan mereka
Hanya siaga masa depan, untuk api atau cahaya

32.  Tapi Aku Mencintaimu (15)
Aslinya aku sedih pada hari ini-mu
Dan sangat cemas esok hari-mu
Karena aku amat menyayangimu
Sehingga tak mungkin meninggalkanmu

Aku kenal mereka setan-setan yuwaswisu
Yang memutus-mutus helai saraf otakmu
Sampai kepalamu berlubang-lubang
Takkan kau tahu seberapa prihatinku

Sampai membeku hatimu, jumud mentalmu
Tak pernah lagi lengkap ilmu pengetahuanmu
Cacat tak terkirakan, terkeping berantakan
Tak kukira kau tak percaya diri hingga sedemikian

33.  Tapi Aku Mencintaimu (16)
Kenapa sih dulu kamu repot-repot bikin Negara
Padahal makin jelas kau tak becus mengurusinya
Kau tak punya minat dan niat untuk mempelajari
Apalagi berjuang keras untuk sungguh-sungguh mengerti

Kenapa tidak iguh, berijtihad, waskita ke depan
Tak menjerat diri harus Negara, Republik stau Kerajaan
Tak harus demokrasi, yang kau pahamı setengah matang
Dan rendah diri terhadap yang orang lain paksa-paksakan

Kok aneh yang kau jalani malah bukan dirimu sendiri
Ajaib kau menolak kedaulatan atas hidupmu sendiri
Kau pasang-pasang wajah orang di mukamu
Bangga berlomba jadi ekor dari penjajahmu

34.  Tapi Aku Mencintaimu (17)
Lakum dinukum waliadin
Laka dinuka wa li dini
Semoga tiba pada yang kau yakin
Meskipun yang bikin kau sendiri

Meskipun yang kau sebut tuhan
Adalah hasil prasangkamu sendiri
Tetap kudoakan sampai ke tujuan
Sebab Tuhan toh sangat murah hati

Jangan bilang agamamu agamamu
Sehingga agamaku adalah agamaku
Akal terhina kalau tuhanmu tuhanmu
Dan Tuhanku adalah Tuhanku

35.  Tapi Aku Mencintaimu (18)
Kalau bagimu itu agama
Teguhlah memeluknya
Kalau ini bagimu Negara
Makan sekenyangnya

Kalau kau yakin begini ini demokrasi
Silahkan ambil dan nikmati
Kau merdeka dariku untuk kenduri
Takkan aku mengambil barang sebiji

Kalau bagimu itu ilmu dan kecanggihan
Serakahilah daratan dan reguklah lautan
Kalau maksudmu ini kemajuan dan inovasi
Takkan kutuntut presidennya ganti

36.  Tapi Aku Mencintaimu (19)
Empat puluh tahun silam kubilang kepadamu
Bahwa engkau adalah bagian dari hidupku
Karena kalau aku adalah bagian dari hidupmu
Maka posisiku adalah meminta bagian darimu

Tidak. Aku tak minta, Aku mau kasih kamu
Aku mau aku yang mempersembahkan sesuatu
Kusingkirkan hak-hakku atas kekayaanmu
Kusembunyikan tagihan-tagihanku kepadamu

Tetapi kini wajahmu menjadi hantu di pandanganku
Kini aku takut berdekatan dan berbagi denganmu
Hari ini tak tahan hatiku menyaksikan hidupmu
Sampai rasanya tak mau kau jadi bagian dari hidupku

37.  Tapi Aku Mencintaimu (20)
Temukanlah sepenggal waktu
Sesapuan bunyi atau suara
Satu titik fakta atau sekilas peristiwa
Yang bisa kau pakai untuk membuktikan
Bahwa aku pernah tidak mencintaimu

Periksalah pecah-pecah telapak kakiku
Ngilu jari-jemari dan kelelahan darahku
Ambillah satu huruf dari bunyi mulutku
Atau satu cc rahasia dari dalam kalbuku
Yang tak mencerminkan cintaku kepadamu

Tapi kau bukan lagi Indonesia
Bukan ini bangsa yang aku bangga
Kalau soal salah kelola dan pemimpin semu
Aku mengalah dan percaya kepada waktu
Tapi ampun-ampun soal hancurnya martabatmu

38.  Tapi Aku Mencintaimu (21)
Bahkan engkau tak harus tahu, apalagi mengakui
Titipan yang melimpah dari langit tinggi
Aku membiarkanmu tidur lelap sekali
Kujaga nikmatmu dengan menghalangi kobaran api

Indonesia kau putra bungsu tak tahu diri
Namun demi tujuh langit senantiasa kucintai
Pembangunan sejarahmu dari hari ke hari
Adalah kanker yang merusak badanmu sendiri

Leluhur masa silam kau tak peduli
Hak anak cucu masa depan kau habiskan hari ini
Itu pun tak ada yang benar-benar kau nikmati
Karena akal sekarat, mental bobrok dan jiwamu mati

39.  Tapi Aku Mencintaimu (22)
Kutulis puisi tiap hari
Supaya ada bahan bagimu untuk menilai
Bahwa ini bukanlah puisi
Bahwa puisi tidaklah yang begini

Ini puisiku, bukan puisimu
Ini bagiku, bukan bagimu
Ini untukku sendiri
Muatannya tersembunyi

Apalagi maksudnya
Apalagi agenda dan visi-misinya
Jadi pasti puisi-puisi ini bukan untukmu
Meskipun maaf nanti akan sampai kepadamu

40.  Tapi Aku Mencintaimu (23)
Semoga minimal setahun ke depan
Anak-anakku yang durhaka jangan datang
Hidup bukanlah 1-2 atau 5-10 tahun ke depan
Waktuku sempit untuk keserakahan dan kekonyolan

Mari sini cucu-cucu faltandhur ma qaddamat lighad
Bapak Ibumu semakin mendekat ke liang lahat
Kusiapkan masker untuk melindungi akal dan hati
Lompatilah setahun paling laknat dan njijiki

Mereka takkan bisa melihat eksistensi kalian
Sebab kalian lolos dari pendidikan peternakan
Tak bisa mereka ambil kalian jadi kuda tunggangan
Nanti di senja sekarat mereka akan baru mengalami kelahiran

41.  Tapi Aku Mencintaimu (24)
Sangat jelas wajahmu di pandangan mataku
Tapi tak tampak oleh mripatmu wajahku
Sangat terang telingaku mendengar suaramu
Tapi tak satu huruf pun telingamu mendengarku

Aku sangat nyambung kepadamu
Tetapi engkau terputus padaku
Kau tetap terdekap erat di pelukanku
Tapi tak ada aku dalam dekapanmu

Aku sudah tak ada di ruang waktumu
Sebab aku mengalir dan di sana kau membeku
Yang kau semayami itu bukan ruang, saudaraku
Dan tempatmu melangkah itu bukan waktu

Tetapi aku selalu sangat mencintaimu
Kubawa kau di gelembung kasih sayangku
Tak ada tempat parkir bagi waktu
Melewati beribu cakrawala kugendong kau hingga Tuhanku

42.  Tapi Aku Mencintaimu (25)
Kumohon keluarlah dari tempurung itu
Kau tahu aku sangat mencintaimu
Cobalah sesekali berdaulat dan bebaskan diri
Tak tega melihatmu menempuh hidup dan mati
Membeku dalam prasangka semu

Bagaimana itu semua gerangan asal-usulnya
Kau berpikir kehidupan adalah bagian dari Indonesia
Kau kira pertanyaan Indonesia jawabannya Indonesia
Indonesia sangkan-nya Indonesia pula paran-nya
Sampai Indonesia adalah Tuhan itu sendiri yang maha esa

Alam semesta teramat luas, ruang tak berbatas
Jin dan Iblis, Nabi dan Malaikat, animasi dan imajinasi
Kau temukan sebagai subordinat dari Indonesia
Hingga kau marah kepadaku dan mereka semua
Karena tidak berlaku sesuai dengan keharusan Indonesia

43.  Tapi Aku Mencintaimu (26)
Ya ampun engkau cintaku
Mudah amat engkau ditipu
Ya salam engkau kekasihku
Gampang sekali kau dicumbu

Seperti gethuk mentalmu gamoh
Akalmu methel seperti kain amoh
Pengetahuanmu seperti tumpukan jerami
Waspada ilmumu tak berkembang sejak bayi

Kalau kukasih tahu semua itu
Kau terlanjur mencintai penyanderamu
Kalau kutunjukkan potret wajahmu
Kau terlanjur bergantung pada penindasmu

44.  Tapi Aku Mencintaimu (27)
Wahai kekasih apa yang terjadi padamu
Setiap kau omong maksudmu bukan itu
Kata yang kau ucapkan, kalimat yang kau paparkan
Selalu bukan yang kau maksudkan

Wahai engkau yang kucintai selalu
Kenapa selalu ada yang kau sembunyikan
Kalau kau pergi umroh atau bersembahyang
Ternyata bukan beribadah yang kau maksudkan

Ketika aku membagi-bagikan makanan
Kau bertanya apa tujuannya membagikan makanan
Ketika aku menolong orang kecelakaan
Kau bertanya apa maksudnya kok menolong orang

45.  Tapi Aku Mencintaimu (28)
Kenapa judulnya tetapi aku mencintaimu
Kok tidak spesifik berdasarkan muatannya
Kenapa sekian puisi judulnya hanya itu
Padahal banyak kemungkinan sentuhannya

Berpuluh-puluh tahun sudah aku berkelana
Keluar masuk ruang, waktu dan cakrawala
Ternyata yang nyata faidza faraghta fanshab
Kemudian berhemat wa ila Robbika farghab

Kenapa firman di Quran dibawa-bawa
Tak pula dituturkan terjemahannya
Orang tak mau tahu ini urusan antara siapa
Mereka pikir aku mengabdi kepada yang bukan Ia

46.  Tapi Aku Mencintaimu (29)
Kenapa aku hanya menulis-nulis puisi
Yang muatannya malah dibikin tersembunyi
Kenapa tak terjun ke pusat Negeri
Pasang bom dan sebar amunisi

Cukup setengah tahun bagiku
Untuk mengobrak-abrik markas mafia itu
Cukup kugerakkan satu dua jari-jemari
Untuk menjungkalkan itu kursi-kursi

Tapi aku berpuasa dan menahan diri
Takkan kujatuhkan dan kuangkat lainnya lagi
Sebab sejak 1998 telah pasti dan teguh di hati
Bahwa kalian tak ngerti perubahan yang sejati

47.  Tapi Aku Mencintaimu (30)
Tak mungkin kau temukan alamatku
Mustahil kau ngerti koordinat pijakanku
Takkan kau tahu ke mana arah langkahku
Sebab yang kau pandang bukanlah aku

Kau tertekan oleh Indonesia
Hingga tertutup matamu dari keluasannya
Kau tersiksa oleh keadaannya
Sampai tak tampak olehmu khaththul istiwa

Tak apa engkau mengira aku ada di dunia
Asal kau pahami bahwa hatiku tidak padanya
Aku mampir sejenak untuk menaburkan cinta
Tapi tanah bumimu sudah terkena narkoba


Oleh: Cak Nun
(Sumber : www.caknun.com/tag/tetes)
Share:

Selasa, 29 Mei 2018

HYDRAULIC AND PNEUMATIC SEALS


 HYDRAULIC AND PNEUMATIC SEALS

Kami PT. TUFFIADI SEMESTA  merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan barang – barang Tehnik dan Manufactur ( Pembuatan ) Sealing Element. Bersama PT. ANEKACIPTA SEALINDO, kami mempunyai Motto “SPESIALIST IN SEALINGS PROBLEM SOLVING”, kami memegang beberapa Merk Seal international seperti MERKEL ( Germany ) , DICTHOMATIK ( Germany ) , SEAL MAKER ( Austria ) serta Produk Lokal. Adapun barang – barang  stock antara lain :

1. Hydraulic/Pneumatic seal     : Wiper seal, Rod seal , Guide Ring, Piston seal,Stopper Ring,dll
                                                : (material : PU, NBR,VITON,SILICONE, TEFLON,dll)
2. Oil Seal                                : R 1 , R2, TC, WA , WAS, TB, dll ( material : NBR, VITON, )
3. O – Ring                               : O – Ring Cord, O – Ring Size , O – Ring Square ( Material : NBR,         VITON ,SILICONE, KALREZ, EPDM, NEOPRENE, ENCUPSULE TEFLON,dll )
4. Gland Packing                      : RAMILON, UNIVAL, DIALON, UNIVERDIT, dll.
5. Gasket                                  : Packing, Sealing, List, dll
6. Mechanical Seal                   : Single Sring, Multi Spring, wive Spring,dll (material : Tungsten  Carbide, Silicone Carbide, Carbon Teflon, Ceramic, Carbon,dll)
7. Diaphragm                           : Nbr Kanvas, Nbr Teflon, Silicone, Teflon, Epdm, Viton, dll
              

Selain memasok barang – barang tersebut kami juga memproduksi seal dengan kualitas Eropa dengan  9 ( sembilan ) material berbeda dan ukuran sesuai permintaan / order dalam waktu maksimal 7 (tujuh) hari selesai. Type Seal Hydraulic & Pneumatic yang dapat kami produksi dengan CNC Rubber IP – 450, SML – 420  




WEBSITE TUFFIADI SEMESTA
Pemesanan dapat Melalui:
ARIP WIBOWO
PT TUFFIADI SEMESTA
Telp : 0811 869 1389
WA  : 0856 4899 5260 
Email : wibowo.arip@ymail.com




Share:

PROFILE PISTON, ROD AND WIPER SEAL


MELAYANI PEMESANAN DAN PEMBUATAN SEAL

Macam-macam seal yang tersedia sebahai berikut:
1. Hydraulic/Pneumatic seal     : Wiper seal, Rod seal , Guide Ring, Piston seal,Stopper Ring,dll
                                                   (material : PU, NBR,VITON,SILICONE, TEFLON,dll)
2. Oil Seal                                 : R 1 , R2, TC, WA , WAS, TB, dll ( material : NBR, VITON, )
3. O – Ring                               : O – Ring Cord, O – Ring Size , O – Ring Square ( Material : NBR, VITON ,SILICONE, KALREZ, EPDM, NEOPRENE, ENCUPSULE TEFLON,dll)
4. Gland Packing                      : RAMILON, UNIVAL, DIALON, UNIVERDIT, dll.
5. Gasket                                  : Packing, Sealing, List, dll
6. Mechanical Seal                    : Single Sring, Multi Spring, wive Spring,dll (material : Tungsten Carbide,  Silicone Carbide, Carbon Teflon, Ceramic, Carbon,dll)
7. Diaphragm                            : Nbr Kanvas, Nbr Teflon, Silicone, Teflon, Epdm, Viton, dll

Macam-macam Profile Seal yang kami buat (CUSTOMIZE SEAL):








Pemesanan Dapat Melalui:
Arip Wibowo
Telp : 0811 869 1389
WA  : 0856 4899 5260 
Email : wibowo.arip@ymail.com

Share:

OIL SEALS AND RUBBER MOULDING



PT TUFFIADI SEMESTA juga melayani pembuatan Karet Cetakan dengan Moulding System:
Dengan berbagai macam bentuk sesuai Kebutuhan Customer, antara lain sebagai berikut:

1. OIL SEAL
2. RUBBER MEMBRAN
3. RUBBER MOUNTING
4. RUBBER BELLOW
5. RUBBER ROLLER

Dengan bahan/Material sebagai berikut:

1. NBR
2. H-NBR
3. SILICONE
4. NBR CANVAS
5. VITON
6. EPDM

Berikut gambaran produk moulding kami:

Pemesanan dapat Melalui:
ARIP WIBOWO
PT TUFFIADI SEMESTA
Telp : 0811 869 1389
WA  : 0856 4899 5260 
Email : wibowo.arip@ymail.com
Share:

Rabu, 08 November 2017

MATA AIR MAIYAH

MATA AIR MAIYAH
Oleh
Muhammad Ainun Nadjib


(1). Meskipun Maiyah adalah mataair yang dicurahkan dari langit ke suatu titik di tanah Indonesia, tetapi ia diperuntukkan hanya bagi hamba-hamba yang di dalam dirinya terdapat jiwa yang segelombang dengan amr dan irodah Maha Ruh sumber mataair itu, melalui garis syafaat kekasih-Nya Muhammad saw.

(2). Mataair Maiyah melahirkan Al-Muhtadin, hamba-hamba yang dihidayahi oleh Allah. Kemudian berhimpun menjadi Al-Mutahabbina Fillah, hamba-hamba yang saling mencintai semata-mata karena Allah. Bersaudara tidak karena hubungan darah, kesamaan golongan atau motivasi kekuasaan dan transaksi keduniaan. Mereka bersaudara dan merawat persaudaraan fid-dunya wal-akhirah, kholidina fiha abada, dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring. Dalam kemudahan atau kesulitan, kemiskinan atau kekayaan, kesedihan atau kegembiraan, dalam kepungan kegelapan atau limpahan cahaya. Mereka mengalir dalam getaran bersama. Mereka bergetar di aliran yang sama.

(3). Para pereguk mataair Maiyah diantarkan dan dihimpun memasuki suatu jagat kejiwaan di mana mereka mengalami kenikmatan bertauhid, ketakjuban ber-Islam, kesegaran silaturahmi, kemurnian ukhuwah, keseimbangan mental, kejernihan penggunaan akal, keadilan berpikir, ketenteraman hati, kebijaksanaan bersikap — serta secara keseluruhan semacam keterbimbingan hidup. Tetapi Allah menguji mereka: Seperti ada tangan besar yang menarik mereka ke jalan sunyi, yang membuat mereka terasing, berbeda bahkan bertentangan dengan dunia dan Indonesia.

(4). Air yang mereka tadahi dari Mataair Maiyah mungkin sekedar dijadikan minuman untuk kesegaran di tenggorokan hidup bersama keluarga. Untuk peluasan dan pendalaman ilmu kehidupan. Untuk racikan baru kesehatan dan pengobatan. Untuk meningkatkan kualitas Ziro’ah, eksplorasi kreativitas Shina’ah dan respons terhadap perubahan tata penghidupan Tijaroh. Atau bisa juga untuk penghimpunan energi zaman melawan kedhaliman nasional dan global. Bahkan lebih menyeluruh, bulat, kaffah sekaligus detail dan ‘serbuk’. Tetapi skala mereka sebatas “wala tansa nashibaka minad-dunya”. Tumpuan mereka adalah “innalloha ‘ala kulli syaiin qodir”. Koridor ilmu mereka adalah kesadaran bahwa pelaku utama perubahan adalah Allah sendiri. Serta takkan mereka lukai atau retak-kan nikmat Allah berupa perkenan Al-Muhtadin dan ikhtiar Al-Mutahabbina Fillah. Pun jangan lupa: Mataair Maiyah bisa tidak berguna apapun. Orang datang ke Mataair Maiyah sekadar untuk memetik keuntungan bagi dirinya sendiri. Maiyah bisa tidak pernah menjadi apa-apa. Menguap ke kekosongan zaman. Sirna dari lembaran buku sejarah dan kehidupan. Menjadi hamparan kerakal-kerikil diinjak-injak oleh gajah Abrahah. Bisa karena kemalasan mental, kesemberonoan ilmu, kejumudan spiritual, atau ketidakberdayaan memanggul berkah. Maiyah menjadi ‘ilmun la yanfa’. Ilmu yang tidak bermanfaat. Dihentikan oleh Allah.

(5). Sebagai yang dititipi mengawal memancarnya mataair Maiyah, saya mengalami dan menyimpulkan bahwa Maiyah itu tidak ada manfaatnya bagi kehidupan di mana manusia menikmati dan merakusi dunia. Disebabkan oleh sekurang-kurangnya sepuluh hal, yang saya petikkan dari ribuan sebab: Pertama, Maiyah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan. Kedua, Maiyah tidak memposisikan dunia sebagai tempat membangun kehidupan yang nyata berdasarkan kesejatian dan keabadian. Ketiga, Maiyah tidak berminat untuk memiliki dan menguasai dunia. Keempat, Maiyah tidak punya kesanggupan dan perangkat untuk mengubah kehidupan manusia di dunia. Kelima, Maiyah tidak berani ikut melakukan perusakan atas rahmat dan amanah Allah. Keenam, tidak punya daya untuk menyelesaikan masalah-masalah manusia di dunia, apalagi menjadi dan menambah masalah. Ketujuh, Maiyah takut terlibat di dalam keserakahan keduniawian, penganiayaan hakikat dan martabat manusia, kolonialisasi terhadap bangsa-bangsa, pemalsuan literasi, penggelapan intelektualitas, pemincangan mentalitas, pemenggalan spiritualitas. Terlebih lagi melakukan pelecehan terhadap eksistensi dan hak Allah, penghinaan terhadap Agama-Nya serta para pecinta-Nya, pada tingkat dan kadar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kedelapan, Maiyah sekadar berikhtiar mengurangi beban-beban yang ditimbulkan oleh hubbud-dunya dan intisyarul-fasadKesembilan, Maiyah menempuh jalan agar tidak ikut sakit-dunia, tidak ikut dianiaya apalagi menganiaya, tidak ikut menipu, memperdaya, mengebiri, membonsai, menjebak, menggerogoti, melampiaskan keserakahan, mengkolonisasi dan mengimperialisasi. Kesepuluh, Maiyah berikhtiar dengan rasa syukur dan husnudh-dhon agar dijadikan bagian dari perkenan “gabah dèn interi” oleh Allah untuk menyelamatkan hamba-hambaNya yang dikehendakiNya. Maka saya menganjurkan menjauhlah dari jalan sunyi Maiyah. Nikmatilah dunia, serakahilah keduniawian, bergabunglah pada kekuasaan, raihlah jabatan, program, proyek, kemajuan dan sukses. Atau lawanlah semua itu dengan pemberontakan, revolusi, atau gerakan-gerakan anak bangsa model apapun. Semoga keputusan kalian ditanggapi oleh amr Allah swt, irodah Rasulullah saw dan gelombang hamba-hamba yang Beliau berdua cintai dan mencintai Beliau berdua.

(6). Kalau engkau memandang sampai kedalaman danau air Maiyah, tampak betapa sejati Tsaqafah Tauhid yang dijalani Jibril, Adam hingga kesempurnaannya pada Baginda Muhammad saw. Kelihatan juga oleh pandanganmu tingkat kebenaran alamiah masyarakat nomaden, suku-suku, komunitas, maupun tingkat kemashlahatan Kerajaan, Keraton, Persemakmuran, Perdikan, Republik, Demokrasi, hingga pun Globalisasi. Tergambar di penglihatanmu satuan-satuan Ideologi, aliran pemikiran, organisasi massa, madzhab, golongan dan kelompok, syu’ub wa qabail, yang sangat mudah kau temukan rasio iktikad sosialnya, serta kandungan ijtihad rahmah lil’alamin-nya. Bahkan betapa indahnya sekolah, universitas, pesantren, percantrikan, halaqah, workshop dan satuan-satuan pembalajaran hidup model apapun. Apalagi di lingkaran kecil keluarga-keluarga. Tetapi itu semua batal dan menghanguskan kehidupan, kalau manusianya menuhankan dunia. Bermental egosentris dan otoriter. Dadanya dipenuhi ananiyah dan hasad. Otaknya dipenggal dari gelombang akal dan pendaran hidayah. Jiwanya dikendalikan oleh baghdlun, karhun, ‘ida’un, kebencian, pentidakkan dan pengkafiran atas yang selain dirinya. Pasukan Zalitun turunan Iblis menguasai manusia Negerimu. Merasukkan penyakit untuk memperjual-belikan segala hal dari biji kacang, demokrasi hingga Tuhan. Mengibarkan dusta Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, pemikiran dan ideologi. Sadar mengkhianati sumpah, sadar maling dan memaksiati Allah dan Rasul-Nya. Membujukkan pencitraan, merayukan Talbis, men-spotlight-kan makar dengan wajah kesetiaan, memviralkan kesetiaan sebagai makar. Kalau kesiapan hidupmu adalah tidak sunyi, tidak menderita dan rasa lumpuh terhadap ketakberdayaan memanggul ujian Allah, menjauhlah dari mataair Maiyah.

(7). Maiyah adalah bagian dari Ummat Islam dan bangsa Indonesia, meskipun ia tidak membatasi dirinya dan tidak bisa dibatasi untuk hanya berada dan berlangsung di wilayah dan skala itu. Maiyah melihat bahwa sangat dekat waktu di depan hidungnya: bangsa Indonesia sedang ditimpa bahaya besar yang mengancam eksistensinya, martabat dan keamanan tanah airnya. Sementara Ummat Islam sedang mengalami pertentangan yang sangat mendasar dan serius di antara mereka, meskipun keduanya tidak merasa apa-apa dan tidak menyadari bagaimana-bagaimana. Maiyah tidak berada pada posisi manapun dalam pertentangan itu, meskipun bisa ditimpa akibat-akibat langsung maupun tak langsung, di masa kini dan masa-masa berikutnya, oleh bahaya dan ancaman itu. Di dalam dirinya Maiyah membangun jiwa pendamai, perekat dan pemersatu. Tetapi ia berada di tengah bangsa dan ummat yang secara permanen memelihara dan memantapi permusuhan, secara sadar menolak kerekatan, dan tidak pernah terlihat melakukan sesuatu menuju ukhuwah, persatuan dan penyatuan. Maiyah seperti berkunjung ke Rumah Sakit, duduk di tepi ranjang pasien yang semakin parah sakitnya. Namun Maiyah tidak mungkin mengemukakan hal-hal tentang sakit dan penyakit kepada pasien yang sedang terbaring sakit. Sedangkan Rumah Sakit itu tidak ada Dokternya. Si Pasien juga tidak pernah bertanya tentang obat dan Dokter, kepada siapapun, apalagi mempercayakan jawabannya kepada Maiyah. Maka tugas Maiyah tinggal dua. Pertama, mengkreatifi mataair Maiyah untuk kebahagiaan hidup para pelakunya. Kedua, kepada yang di luar mataair dan kebunnya, Maiyah bersedih dan membisu.

(8). Di tengah panas terik dan puncak kehausan, seteguk air itu dahsyat, nikmat, ajaib, bahkan serasa “mukjizat”. Bukan karena setetes air itu sebanding mutunya dengan segelas Es Teler, melainkan karena kadar rasa syukur orang yang sedang sangat haus. Andaikan Maiyah itu semacam seteguk air: ia bukanlah karya, bukan prestasi, bukan sukses, bukan keberhasilan dan kejayaan siapapun saja. Tak ada selain Allah yang mampu menyelenggarakan keajaiban. Karena keajaiban itu juga diperuntukkan hanya bagi yang Allah memperkenankannya, sehingga mengalami keajaiban itu. Batu besar menggunduk di jalanan Maiyah hari ini adalah keinginan dan “semacam nafsu” agar Allah mengeksekusikan keajaiban yang lebih besar dan kasatmata kepada Indonesia dan Dunia, dalam wujud dan takaran seperti yang didambakan oleh hati para pejalan Maiyah. Ingin Allah lebih segera “menagih hutang”, “merampas kembali segala yang dirampok”, “membangkitkan kembali semua yang dirobohkan”, “mengangkat yang dilemahkan menjadi pemimpin, dan menjadikannya pewaris kekuatan-Nya”. Maiyah menemani hamba-hambaNya di ribuan titik. Memohon pembengkakan jumlah Al-Muhtadin dan Al-Mutahabbina Fillah. Bershadaqah ikhtiar menghimpun mereka ke dalam Cinta Segitiga dengan Allah dan Rasulullah. Tetapi Maiyah tidak memasuki pagar Demokrasi, karena sabda Rasulullah saw: “Wahai Abdurrahman, jangan minta jadi pemimpin. Kalau kamu jadi pemimpin karena permintaan atau keinginanmu, maka semua urusan menjadi urusanmu sendiri, Allah tidak mau tahu. Tapi kalau kamu jadi pemimpin bukan atas permintannmu atau keinginanmu, Allah akan membantumu.” Para pelaku Maiyah merdeka untuk tidak mampu bertahan berada di luar pagar. Mereka memiliki hak asasi untuk memasuki Demokrasi, mencalonkan diri menjadi pemimpin, memamerkan kebaikan dan kehebatannya di baliho-baliho sepanjang jalan. Minimal menjadi relawan catnya, garisnya, font-nya, kayu framing-nya, atau logam penyangganya. Syukur nanti katut jadi Menteri, Dirjen, Sekjen, Dirut, Komisaris, Rektor, Dekan, Duta Dialog Peradaban, sekurang-kurangnya kesrèmpèt proyek. Para pelaku Maiyah lainnya bertahan dalam sunyi: “Qulillahumma Malikal mulki tu`til mulka man tasya`…”. “Kulla ma nadaita ya Hu, qala ya ‘abdi ana-Llah”.

(9). Maiyah tak berguna di Negerimu. Satu bangsa bisa menjajah bangsa lain karena nasionalisme bangsa penjajah itu tidak diletakkan dalam spektrum universalisme kemanusiaan. Maiyah tidak begitu, tetapi bangsa yang dijajah itu kemudian malah menyetujui spektrum itu, bahkan mengikuti jejak penjajahnya yang nasionalismenya bermakna primordialisme dan egosentrisme suatu rumpun manusia yang secara “brutal” disebut bangsa. Maka Maiyah tidak bermanfaat di Negerimu. Dan pada hakikatnya yang terjadi antara bangsa yang menjajah dengan yang dijajah bukanlah penjajahan, melainkan hubungan transaksional antara yang melacur dengan pelacurnya. Maiyah bukan dholimun, madhlumin maupun fasidin. Maka Negerimu tidak punya kerangka berpikir untuk menerima Maiyah. Sebab kategorisasi pemikiran modern meletakkan Maiyah di kotak alergi politik. Yang dikenali sebagai politik adalah perangkat keras kekuasaan. Kepemimpinan adalah jabatan. Derajat adalah pangkat sosial. Itu pun dalam penyempitan spektrum kehidupan yang dinamakan Negara. Sementara negeri Maiyah adalah Al’alamin. Maiyah memahami manusia sebagai pusat komprehensi antara konteks insaniyah, ubudiyah dan khilafah. Dialektika dari posisi rebah dalam semesta uluhiyah menjadi transformator rububiyah, membangun rahmah lil’alamin. Sebatas kadar liutammima makarimal akhlaq. Dengan ketergantungan kepada mulkiyatullah. Itu pun tidak mbentoyong memanggul kewajiban lebih dari wala tansa nashibaka minad-dunya. Skala Nasionalisme adalah bidang garapnya. Para pereguk mataair Maiyah tidak meliterasikan itu semua secara akademis, melainkan langsung mengalami dan menikmatinya. Maiyah sangat meringankan perjalanan hidup, tapi sekaligus menyodorkan tantangan yang mungkin takkan pernah bisa dilunasi. Sebab Maiyah menemukan tidak ada benda, tema dan peristiwa yang berdiri sendiri secara steril, parsial dan linier. Seorang koruptor bisa kirim biaya untuk membangun Masjid di kampungnya. Pelacur kelas tinggi bisa menyisihkan uang untuk membagi modal kepada ratusan kelompok usaha kecil rakyat bawah. Pejabat tinggi memberantas maksiat sehingga mulus jalannya menuju jabatan lebih tinggi. Dengan baju Pewaris Nabi, seseorang bisa mengkapitalisasikan sejumlah tema Agama, Nabi, bahkan Allah dan firman-Nya. Sedangkan Maiyah saling mempersaudarakan, saling mengamankan, menolong, menggembirakan dan membahagiakan satu sama lain, dengan pamrih maksimal memperbanyak jumlah Al-Mutahabbina Fillah. Puluhan tahun hingga detik ini tak secuilpun terdapat perilaku Maiyah yang indikatif terhadap kekuasaan, pangkat, jabatan, materialisme dan kapitalisme. Maka tahun politik di Negerimu mulai tahun depan ini disyukuri oleh Maiyah karena “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk sorga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?”. Allah menganugerahkan ujian itu kepada Maiyah.

(10). Maiyah adalah hadiah dari Allah, bukan karya kita. Semua kekurangan Maiyah berasal dariku. Kita bersyukur Allah menganugerahkan Cak Fuad dan Syekh Kamba, sebagai Marja’ ilmu kita semua. Tetapi kami bertiga bukan Ulama, Mursyid atau Kiai, sebagaimana beliau-beliau di luar sana. Selama 24 tahun ini kita berkumpul dan hanya berjuang mencintai dan mendekat kepada Allah Muhammad kekasih-Nya, mengikhtiari manfaat hidup. Termasuk buat Indonesia. Aku Mbah kalian semua adalah manusia biasa, awam dalam hal ilmu keagamaan maupun ilmu modern. Tidak ada padaku ekspertasi bidang apapun. Aku tidak berada di jalur pembelajaran Ulama, Santri maupun para modern scholars. Aku tidak punya sanad ilmu di wilayah tadarrus, ta’lim, tafhim, ta’rif maupun ta`dib. Aku tidak merupakan bagian dari nasab yang perlu diperhatikan. Tidak ada yang anak cucuku bisa andalkan dan harapkan dariku, lebih dari yang sejauh ini Allah memperkenankan. Apalagi yang menyangkut perkara-perkara besar Indonesia dan peradaban ummat manusia. Hanya kasih sayangku dan kami bertiga kepada kalian, itu pun hanya setetes dua tetes. Anak cucuku silakan menjawab sendiri: Apakah Allah menitipkan Indonesia kepada kalian dengan dibekali Maiyah, ataukah Allah mem-fadhilah-kan Maiyah kepada kecerdasan dan kebijaksanaan kalian: untuk kalian jadikan manfaat apa, bagaimana dan seberapa luas. Atau disimpan sebagai rahasia di kalbu kalian. Anak cucuku silakan tampil ke gelanggang persaingan, keunggulan dan kalah menang di luar Maiyah. Tetapi tidak dengan jiwa “adigang adigung adiguna” jika menang, dan tidak dengki, cengeng dan dendam kalau kalah. Tegakkan kemandirian eksistensimu. Kibarkan bendera dan nama jihadmu. Gerakkan da’wah khoir, amar ma’ruf dan nahi munkar, dengan harta benda, tenaga, ilmu, sampai pun jiwa dan nyawa. Maiyah hanya bisa membekalimu cairan dan “glepung”, sampai Allah berkenan “dawuh” yang kasatmata. Kalau kalian memadatkan gerakan sejarahmu itu dalam pemetaan masalah nasional saat ini: pastikan bahwa tak akan ada perang saudara dan perbenturan horizontal akan terjadi di antara ummat dan bangsamu, yang membuat semakin bertumpuk defisit dan utang-utang sejarah. Ingat juga Maiyah tidak kuasa mengubah silang sengkarut permasalahan Indonesia. Innaka la tahdi man ahbabta walakinnalloha yahdi man yasya. Maiyah tidak mampu mengobati Indonesia dan dunia. Pengobatan itu terjadi hanya jika Indonesia dan dunia dihidayahi Islam oleh Allah, yang bisa juga melalui Maiyah, kemudian Ia memperkenankan kesembuhannya. Nikmatilah tidak butuhnya dunia dan Indonesia kepada Maiyah adalah anugerah kemerdekaan. Yang melapangkan ruang dan waktu kalian untuk memfokuskan kekhusyukan mengasyiki Al-Qur`an, sebagai bekal untuk menyuburkan Kebun Maiyah, mengkreatifi rezeki mataairnya untuk kalian olah di bidang-bidang ziro’ah, shina’ah, tijaroh, dan apapun yang Allah mem-fadhilah-kan kepada kalian. Allah menjadwalku berkeliling, melangkah di belakang barisan kalian, dengan nafas tersengal-sengal oleh cintaku kepada ummat manusia, Kaum Muslimin dan rakyat Indonesia. (Caknun.com)










Share:

Rabu, 23 Agustus 2017

Tutorial Corel Draw Lengkap

Bagi yang ingin belajar Corel Draw dari dasar.
Kami sediakan Tutorial CorelDRAW Lengkap.....


SILAHKAN KUNJUNGI CHANNEL YOUTUBE SAYA














MY CHANNEL

Share:

Lautan Jilbab

Pengunjung Blog

Posted by Arip. Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut